cari...

Friday, October 25, 2024

Menanggapi Karya Keselamatan Allah

  1. Jelaskan bahwa Allah adalah sumber keselamatan sejati bagi hidup manusia!

  2. Menurut kamu apa makna Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.”! 

  3. Jelaskan bahwa Yesus Kristus adalah tanda kasih Allah yang paling agung!

  4. Apa yang menjadi ciri khas iman kristiani?

  5. Hidup kristiani memiliki tiga aspek yaitu pengetahuan iman, pengalaman iman dan penyerahan iman. Jelaskankan tiga aspek hidup beriman kristiani tersebut!

  6. Apa peranan jemaat dalam usaha mengembangkan iman?

  7. Jelaskan peran bunda Maria dalam sejarah keselamatan!

  8. Bagaimanakah caramu mewujudkan  iman kristiani dalam kehidupan sehari-hari?

  9. Sebutkan kebiasaan-kebiasaan agar iman kita berkembang dan menghasilkan buah keselamatan! (min 5)

  10. Buatlah Doa tentang “Menanggapi Karya Keselamatan Allah”!

Wednesday, August 21, 2024

SAKRAMEN IMAMAT (Materi Pend Agama Katolik kelas IX - SMP Kanisius Wonogiri)

        Hidup dalam lembaga perkawinan atau berkeluarga pada umumnya lebih dipilih oleh banyak orang, meskipun dalam Gereja Katolik hidup berkeluarga bukanlah satu-satunya panggilan hidup. Masih ada panggilan hidup yang lainnya, yaitu panggilan hidup selibat. 

Pada zaman modern seperti sekarang ini, pilihan untuk menjadi seorang bruder, suster, dan imam cenderung sangat sulit dipahami. Tetapi kenyataannya, masih ada orang-orang yang menjalani panggilan Tuhan untuk hidup selibat, entah sebagai bruder, suster, atau imam. 

Panggilan hidup selibat merupakan panggilan hidup yang khas. Mereka memberikan hidup dan dirinya secara total kepada kepada Tuhan untuk menjadi partner-Nya dalam mewartakan Kerajaan Allah. Panggilan khusus untuk hidup selibat sebagai imam dalam Gereja Katolik dimeteraikan dalam Sakramen Imamat. 

Sakramen Imamat mengenal tiga tingkatan, yaitu: 

  1. Tahbisan Episkopat, yaitu tahbisan Uskup. Tahbisan Uskup ini merupakan Sakramen Imamat tertinggi atau keseluruhan pelayan suci. “Dengan Tabisan Uskup diberikan kepenuhan sakramen imamat, yakni yang dalam kebiasaan liturgi Gereja maupun melalui suara para Bapa Suci disebut imamat tertinggi, keseluruhan pelayan suci. Adapun dengan tahbisan Uskup diberikan tugas menyucikan, selain itu juga tugas mengajar dan membimbing.” (lih. LG 21). 

  2. Tahbisan Presbiterat, yaitu tahbisan untuk para imam. “Para imam, walaupun mereka tidak menerima puncak imamat, dan dalam melaksanakan kuasa mereka tergantung dari para Uskup. Namun mereka sama-sama imam seperti para Uskup dan berdasarkan sakramen tahbisan mereka ditahbiskan menurut citra Kristus, Imam Agung yang abadi, untuk mewartakan Injil serta menggembalakan Umat beriman, dan untuk merayakan ibadat ilahi, sebagai imam sejati Perjanjian Baru.” (lih. LG 28). 

  3. Tahbisan Diakonat, yaitu tahbisan untuk diakon. “Pada tingkat hirarki yang lebih rendah terdapat para diakon, yang ditumpangi tangan bukan untuk imamat, melainkan untuk pelayanan. Sebab dengan diteguhkan rahmat sakramental mereka mengabdikan diri kepada Umat Allah dalam perayaan liturgi, sabda dan amal kasih, dalam persekutuan dengan Uskup.” (lih. LG 29). 

Hanya Uskup yang berkuasa memberi pelayanan Sakramen Imamat dengan menumpangkan tangan dan mengucapkan doa-doa khusus sesuai tahbisan yang diberikan. 

Untuk menjadi seorang imam, seseorang tidak begitu saja bisa langsung diterima, dilantik, atau ditahbiskan menjadi imam. Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang imam, antara lain: 

  1. Seorang pria normal yang telah menerima Sakramen Inisiasi. 

  2. Belum dan tidak akan beristri seumur hidup (bersedia hidup selibat). 

  3. Memiliki motivasi yang kuat menjadi imam. 

  4. Menyelesaikan pendidikan khusus di seminari menengah dan mempelajari filsafat, teologi, moral, dan hukum Gereja di seminari tinggi. 

  5. Memenuhi lima kriteria utama calon imam: Sanctitas (kekudusan), Sanitas (kesehatan), Scientia (pengetahuan), Sapientia (kebijaksanaan), dan Socialitas (kemasyarakatan/persaudaraan). Sehat secara jasmani dan rohani. 

Semua syarat tersebut untuk mendukung tugas-tugasnya sebagai imam. Seorang yang membaktikan hidupnya menjadi seorang imam harus siap secara total memberikan dirinya untuk meneruskan tugas Kristus sebagai imam, nabi, dan raja. Hidupnya tidak lagi berorientasi pada hal-hal duniawi. Seorang imam menjadi milik Allah dan milik Gereja. 

Imam dari suatu ordo atau kongregasi biasanya mengucapkan tiga kaul, yaitu kaul ketaatan, kaul kemiskinan, dan kaul kemurnian (selibat). Kaul ketaatan, seorang tertahbis harus bersedia taat kepada atasannya seperti Kristus taat kepada Bapa-Nya demi Kerajaan Allah (bdk. Yoh 4:34 dan Flp. 2:6). Kemurnian atau selibat, seorang tertahbis harus bersedia untuk tidak menikah seumur hidupnya demi pelayanannya secara total kepada Allah dan Gereja-Nya yang kudus (bdk. Mat 19:12). Kaul kemiskinan, seorang tertahbis harus bersedia melepaskan diri dari keterikatan terhadap barang-barang duniawi (bdk. Mat 6:20 dan Luk 9:58). Imam Diosesan (Imam Praja) tidak mengucapkan ketiga kaul tersebut, mereka hidup selibat dan mengucapkan janji ketaatan kepada Uskupnya. 

Dengan menerima Sakramen Imamat, para imam dimeteraikan sebagai wakil Kristus sehingga terdapatlah hubungan istimewa dengan-Nya. “…para imam, berkat pengurapan Roh Kudus, ditandai dengan meterai istimewa, dan dengan demikian dijadikan serupa dengan Kristus Sang Imam, sehingga mereka mampu bertindak dalam pribadi Kristus Kepala.” 

Hubungan imam dengan Kristus yang istimewa ini sangat nyata dan kelihatan dalam Perayaan Ekaristi yang merayakan sekaligus menghadirkan kembali kurban Kristus. Para imam bertindak atas nama Kristus sendiri. “Tetapi tugas suci mereka terutama mereka laksanakan dalam ibadat Ekaristi. Di situ mereka bertindak atas nama Kristus, dan dengan memaklumkan misteri-Nya mereka menggabungkan doa-doa umat beriman dengan korban Kepala mereka. Dalam kurban Misa, mereka menghadirkan serta menerapkan satu-satunya korban Perjanjian Baru, yakni kurban Kristus, yang satu kali mempersembahkan diri kepada Bapa sebagai korban tak bernoda.” (LG 28). 

Dengan martabat imamat, para imam juga mengambil bagian dalam imamat Kristus untuk menguduskan orang-orang dengan mengampuni dosa-dosanya dan menerimakan sakramen-sakramen lain serta mendoakan dan memberkati mereka. Mereka juga mengambil bagian dalam tugas-Nya sebagai nabi dan gembala dengan mewartakan Injil, memperjuangkan Kerajaan Allah, dan memimpin umat beriman. Begitulah para imam mewakili Kristus sebagai imam untuk menguduskan orang-orang, sebagai pengajar untuk mewartakan sabda Tuhan dan sebagai gembala umtuk membimbing dan mempersatukan umat Allah. 

Tugas para imam tersebut secara jelas tertuang dalam Kitab Hukum Kanonik 1008 yang berbunyi, “Dengan sakramen imamat yang diadakan oleh penetapan ilahi, seorang beriman diangkat menjadi pelayan-pelayan rohani dengan ditandai oleh meterai yang tak terhapuskan, yakni dikuduskan dan ditugaskan untuk selaku pribadi Kristus Sang Kepala, menurut tingkatan masing-masing, menggembalakan umat Allah, dengan melaksanakan tugas mengajar, menguduskan dan memimpin.” 

Dalam Katekismus Gereja katolik juga menegaskan tentang kedudukan dan tugas para imam. “Kristus sendiri hadir dalam pelayanan Gerejani dari imam yang ditahbiskan dalam Gereja-Nya sebagai Kepala Tubuh-Nya, Gembala kawananNya, Imam Agung kurban penebusan, dan Guru kebenaran. Gereja menyatakan ini dengan berkata bahwa seorang imam, berkat Sakramen Tahbisan, bertindak atas nama Kristus, Kepala.” (KGK 1548). 

Kutipan lainnya, “Oleh rahmat khusus dari Roh Kudus Sakramen ini membuat penerima serupa dengan Kristus, supaya ia sebagai alat Kristus melayani GerejaNya. Tahbisan memberi kuasa kepadanya, agar bertindak sebagai wakil Kristus, Kepala, dalam ketiga fungsi-Nya sebagai Imam, Nabi, dan Raja.” (KGK 1581). 

Karena itu, buah dari Sakramen Imamat adalah pencurahan Roh Kudus bagi calon imam dan menjadikan calon imam tersebut serupa dengan Kristus dalam tiga jabatan-Nya sebagai imam, nabi, dan raja sesuai dengan tingkatan tahbisan yang diterima. Pentahbisan memberikan meterai spiritual yang tidak dapat dihapuskan, dan karena itu tidak dapat diulangi atau diberikan untuk sementara waktu.


Friday, March 19, 2021

Contoh Pidato Bahasa Jawa (perpisahan kelas 9)

 Sugeng enjang lan Berkah Dalem

Dhumateng Ibu Kepala SMP Kanisius Wonogiri ingkang kawula hormati, Bapak/Ibu Guru lan Karyawan SMP Kanisius Wonogiri ingkang kinurmatan, Bapak/Ibu tiyang sepah ingkang kawula bekteni, rencang-rencang kelas IX lan adhik-adhik kelas VII dan VIII ingkang kula tresnani.

Ingkang sepindah monggo kita sami ngaturaken syukur dhumateng ngarsanipun Gusti Ingkang Kuwaos, saenggo kita sedaya tasih diparingi kesehatan lan saged makempal kanthi pinaringan karaharjan ing dinten menika ing Aula SMP Kanisius Wonogiri ing acara “Perpisahan kelas IX  SMP Kanisius Wonogiri”.

Kula, wakil saking siswa kelas IX, ngaturaken agunging panuwun dhumateng Bapak saha Ibu Guru lan Karyawan, anggenipun nggulawentah dhumateng kula sekanca, saengga saged ngrampungaken kewajiban anggen kula lan rencang-rencang ngangsu kawruh wonten sekolah niki, SMP Kanisius Wonogiri.

Kula lan rencang-rencang namung saged memuji lan donga. Mugi-mugi amal lan kesaenan Bapak Ibu Guru lan Karyawan pikantuk piwales saking Gusti Allah Ingkang Maha Sae, saha tansah pinaringan kasarasan, kawilujengan lan ketentreman saengga saged nggulawentah dhateng adhik-adhik sedaya ngantos dumugi lulus kanthi biji ingkang sae-sae.

Mboten kesupen, kula lan rencang-rencang ugi nyuwun pangapunten, awit kula lan rencang-rencang asring ndamel Bapak saha Ibu susah lan kaciwa, awit saking atur saha solah bawa kula lan rencang-rencang ingkang mboten mranani penggalih panjenengan sedaya.

Dhumateng Bapak/Ibu Guru lan Karyawan saha adhik-adhik sedaya, sepisan malih kula ndedonga mugi tansah pinaringan rahmat saking Gusti Ingkang Maha Kuwaos, Amin..

Cekap semanten atur kula, menawi kathah kalepatan atur, kula nyuwun pengampunten.

Nuwun, matur nuwun.

Sunday, January 17, 2021

Fine me...

 


CLOSE

CRY

CUT

DRINK

EAT

HELP

HIDE

JUMP

LISTEN

OPEN

PLAY

READ

RUN

SAY

SLEEP

SWEEP

WALK

WASH

WATCH

WRITE


Monday, November 23, 2020

Kisi-kisi PAS Gasal Bahasa Inggris SMP Kanisius Wonogiri tahun pelajaran 2020/2021

Hallo semua.. Salam Sehat...

Silahkan diunduh kisi-kisi PAS Gasal 2020/2021 mata pelajaran Bahasa Inggris ya...

1. kelas VII silahkan klik Kisi-kisi B Ing 7

2. kelas VIII silahkan klik Kisi-kisi B Ing 8

3. kelas IX silahkan klik Kisi-kisi B Ing 9

Kemudian dipelajari kisi-kisi tersebut ya...

selamat belajar.. semoga sukses..


Thursday, March 19, 2020

Kisi-kisi Ujian Sekolah Bahasa Inggris SMP

teman-teman yg membutuhkan kisi-kisi US Bahasa Inggris
SMP Kanisius Wonogiri 2019/ 2020

klik sini ya....

Sunday, March 15, 2020

TUGAS MANDIRI BAHASA JAWA KELAS 7 SMP KANISIUS WONOGIRI

Tugas Mandiri Bahasa Jawa kelas 7; silahkan klik tautan di samping klik di sini ya..

Selamat mengerjakan...

jangan lupa beri nama dan nomor presensi..

TUGAS MANDIRI BAHASA INGGRIS SMP KANISIUS WONOGIRI

1. Tugas Mandiri kelas 7; silahkan klik tautan di samping klik di sini ya..

2. Tugas Mandiri kelas 8; silahkan klik tautan di samping klik di sini ya..

3. Tugas Mandiri kelas 9; silahkan klik tautan di samping klik di sini ya..

Selamat mengerjakan...

jangan lupa beri nama dan nomor presensi..

Take care of your health...

Covid-19


Take care of your health.

保重身体
Bǎozhòng shēntǐ

 Prends soin de ta santé.

お大事にしてください。
Odaijini shite kudasai.

건강을 관리하십시오.
geongang-eul gwanlihasibsio.


Tuesday, September 17, 2019

B.J. Habibie

B.J. Habibie, in full Bacharuddin Jusuf Habibie, (born June 25, 1936, Parepare, Indonesia—died September 11, 2019, Jakarta), Indonesian aircraft engineer and politician who was  president of Indonesia (1998–99) and a leader in the country’s technological and economic development in the late 20th and early 21st centuries.
Brilliant in science and mathematics from childhood, Habibie received his postsecondary education at the Bandung Institute of Technology in Bandung, Indonesia, and furthered his studies at the Institute of Technology of North Rhine–Westphalia in Aachen, West Germany. After graduating in 1960, he remained in West Germany as an aeronautics researcher and production supervisor.
Suharto took power as Indonesia’s second president in 1966, and in 1974 he asked Habibie—whom he had known for 25 years—to return to the country to help build advanced industries. Suharto assured him that he could do whatever was needed to accomplish that goal. Initially assigned to the state oil company, Pertamina, Habibie became a government adviser and chief of a new aerospace company in 1976. Two years later he became research minister and head of the Agency for Technology Evaluation and Application. In these roles he oversaw a number of ventures involving the production and transportation of heavy machinery, steel, electronics and telecommunications equipment, and arms and ammunition.
Habibie believed his enterprises ultimately would spawn high-tech ventures in the private sector and allow the country to climb the technology ladder. In 1993 he unveiled the first Indonesian-developed plane, which he helped design, and in the following year he launched a plan to refurbish more than three dozen vessels bought from the former East German navy at his initiative. The Finance Ministry balked at the cost of the latter endeavor, while the armed forces thought that its turf had been violated. Nevertheless, Habibie got more than $400 million for refurbishing
Meanwhile, in 1990 Habibie was appointed head of the Indonesian Muslim Intellectuals Association, and during the 1993 central-board elections of the country’s ruling party, Golkar, Habibie helped the children and allies of President Suharto rise to top positions, easing out long-standing military-backed power brokers. By the late 1990s Habibie was viewed as one of several possible successors to the aging Suharto.
In March 1998 Suharto appointed Habibie to the vice presidency, and two months later, in the wake of large-scale violence in Jakarta, Suharto announced his resignation. Thrust unexpectedly into the country’s top position, Habibie immediately began to implement major reforms. He appointed a new cabinet; fired Suharto’s eldest daughter as social affairs minister as well as his longtime friend as trade and industry minister; named a committee to draft less-restrictive political laws; allowed a free press; arranged for free parliamentary and presidential elections the following year; and agreed to presidential term limits (two five-year terms). He also granted amnesty to more than 100 political prisoners.
In 1999 Habibie announced that East Timor, a former Portuguese colony that had been invaded by Indonesia in 1975, could choose between special autonomy and independence; the territory chose independence. Indonesia held free general elections (the first since 1955) in June, as promised. Later that year Habibie ran for president, but he withdrew his candidacy shortly before the October election, which was won by Abdurrahman Wahid. After Wahid took office, Habibie essentially stepped out of politics, although in 2000 he established the Habibie Center, a political research institute.

The Editors of Encyclopaedia Britannica. 
This article was most recently revised and updated by Michael Ray, Associate Editor.
https://www.britannica.com/biography/B-J-Habibie

Monday, April 29, 2019

Recount Text


1.   Personal recount text adalah jenis recount text yang menceritakan pengalaman pribadi si penulis seperti pengalaman liburan, pengalaman di sekolah atau bahkan pengalaman tak terlupakan yang membuat kita terus mengingat kejadian tersebut.
2.   Struktur Recount Text
Terdapat 3 unsur struktur recount text, yaitu:
a.   Orientation (Pembuka)
Orientation berisi awalan cerita. Bagian ini biasanya menjelaskan tentang latar cerita seperti tempat dan waktu kejadian.
b.   Event (Isi)
Event berisi inti cerita dari recount text. Bagian ini menjelaskan kejadian secara berurutan dari kejadian A ke kejadin B.
c.   Reorientation (Kesimpulan atau Penutup Teks).
Reorientation berisi pengulangan dan penutup jalannya cerita.
The three elements of recount text can be explained as follows:
 Text elements
Content
Orientation
Information about an event and its setting. It provides details of who, what, when, where, or why.
Record of events
A sequence of events which happened in a chronological order. What happened? First ….. Second ….. Next ….. Soon ….. During ….. After ….. Later ….. Eventually ….. Finally …..
Reorientation (coda)
Closure, conclusion, or summary of the events that explains about what we think, feel, or decide about the events that occurred


Pada saat menulis sebuah recount text, ciri-ciri sebagai berikut :
1. Menggunakan kalimat past tense
Contoh : I spent my summer in Yogyakarta and I was very happy.
2. Menggunakan action verbs
Contoh : spent, went, brought, took, dll
3. Menggunakan adverb dan adverbial phrase untuk mengungkapkan waktu, tempat dan cara.
Contoh : last month, in Malang, lately, dll
4. Menggunakan conjunction dan time connectives untuk mengurutkan peristiwa atau kejadian.
Contoh: and, or, after that, dll

Tuesday, April 2, 2019

Written Test for Giving Instruction


1.    Read the dialogue and answer the questions!
Chika               : Good Morning, this is Cannon Printer call center.
Vina                : Hello, I need a help. My printer got jammed.
Chika               : Please, turn it off. Wait for a second and turn it on again.
Vina                : All right. Wait a minute.
Chika               : Does it print again?
Vina                : Yes, it does. Thank you.
What is the dialogue about?
      2.    Match the column A with the appropriate response in the column B.
Column A
Column B
1)       May I go to toilet, Sir?
a.       Of course. I will bring it.
2)       My parent will have an anniversary party next week. Would you like to come to my school, please?
b.      Ok. Go on.
3)       The class is messy, let’s clean and arrange it!
c.       I’m very sorry. I can join in the party. I must go to my grandparent’s house next week
4)       It’s rainy day. Can you bring your umbrella?
d.      That’s right. Let’s do it together.
    3.    Fill in the blank!
Gina         Excuse me, this room is so hot. …..(a),please?.
Mina         …..(b),
    4.    Arrange the jumble words to be a good expression!
a.       party? - to - you - come - like - to – my - Would
b.      go - off - fan - Turn - you - the - out, - please! - before
    5.    Arrange the jumbled sentence to be a good dialogue!
Helena: Don’t mention it
Helena: I’m so sorry, I use it to write my note.
Helena: All right, just use it. I have another pencil.
Maria: Thank you so much.
Maria: Would you like to lend me your pencil, please?
Maria: I forgot to bring my pencil case… Could you lend me your pen, please?